Meneguhkan Bangsa Beradab: SMP Negeri 1 Banjarnegara Gelar Bincang Pendidikan 2026

Memperingati Hari Pendidikan Nasional, SMP Negeri 1 Banjarnegara menggelar acara Bincang Pendidikan pada Kamis, 21 Mei 2026. Acara Bertema “Pendidikan Untuk Semua: Lintas Generasi, Lintas Profesi” ini menghadirkan bupati, akademis, dan praktisi untuk menguatkan karakter bangsa.

 

Kepala SMP Negeri 1 Banjarnegara, Bapak Purnomo, S.Pd., membuka acara dengan menegaskan pentingnya kolaborasi seluruh elemen masyarakat demi meningkatkan mutu dan kompetensi pendidikan di daerah.

Dalam sesi keynote speech, Bupati Banjarnegara, dr. Amalia Desiana, menekankan bahwa guru era digital harus ekstra sabar mendidik generasi media sosial yang karakternya jauh berbeda dengan zaman dahulu. Menutup arahannya, dr. Amalia mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar dengan aktif melaporkan warga yang membutuhkan bantuan kepada pihak berwenang.

Selain itu,  pembacaan dan penandatanganan nota kesepahaman antara SMP Negeri 1 Banjarnegara dengan Universitas Muhammadiyah Purwokerto dilakukan sebagai langkah untuk memperkuat sinergi pendidikan.

Sesi Panel, Sekolah Nyaman & Budaya Ilmiah Era AI

Dipandu oleh Dr. Tuswadi, sesi diskusi menghadirkan tiga narasumber ahli:

    • Teguh Handoko, S.Sos. (Kepala Dindikpora): Menyatakan bahwa sekolah aman dibentuk melalui pembiasaan budaya, bukan sekedar insfrastruktur. Dindikpora kini membentuk Satgas lintas sektor yang ketuanya nanti dipimpin langsung oleh Sekda serta melibatkan Bapperida, Dinsos, hingga kepolisian dan kerjaksaan untuk menangani kekerasan, di samping menekankan pentingnya pembatasan gawai pada anak.

    • Prof. Dr. Haryo Bimo Setiarto (BRIN): Menghimbau agar sekolah tidak membatasi penggunaan AI (ChatGPT, Gemini, dan platform AI lainnya), melainkan mengarahkannya untuk hal produktif seperti smart farming. Budaya ilmiah harus dimulai dari rasa ingin tahu siswa.

    • Prof. Dr. Jebul Suroso (UMP): Menegaskan bahwa setinggi apa pun kemajuan teknologi, fondasi utamanya tetap bertumpu pada budi pekerti yang luhur.

Sesi Tanya Jawab Realita Lapangan

Dua perntayaan kritis muncul dari peserta acara:

    1. Dari Pengawas Sekolah Menengah: Menyoroti adanya perbedaan persepsi tentang sekolah aman/nyaman dan kelemahan potret akreditasi 5 tahun sekali yang dinilai kurang responsif terhadap penanganan korban kekerasan yang butuh penyelesaian cepat.

    1. Dari Perwakilan MKKS Banjarnegara: Menyoroti aspek psikologis guru. Bagaimana bisa menciptakan lingkungan sekolah yang nyaman bagi siswa, jika kondisi psikologi dan kesejahteraan guru sendiri belum mapan/nyaman?

Acara ditutup dengan penuh hangat melalui penyerahan souvenir kepada ketiga narasumber luar biasa, menandai komitmen bersama demi kemajuan pendidikan Kabupaten Banjarnegara.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *